Saya seorang ibu dengan satu orang putra.
Bocah tampan itulah alasan saya untuk resign dari pekerjaan kantoran yang sudah saya jalani kurang lebih 6 tahun.
Keputusan sulit yang saya harus buat bersama suami, karena sudah saatnya si kecil bersekolah Taman Kanak-Kanak sehingga perlu pengawasan lebih. Menimbang penghasilan bapaknya cukup untuk semua tanggungan dan semakin sibuk dengan jadwal murid yang padat, saya mengalah dengan mengorbankan karier yang bisa dibilang sudah cukup bagus.
Setelah melepas gelar pegawai kantoran, banyak ketakutan membayangi.
- Saya tidak lagi menerima gaji, sehingga sepenuhnya dijatah oleh suami. Karena sudah terbiasa membelanjakan uang dari hasil kerja sendiri,lalu tiba-tiba hanya menerima dari jerih payah suami membuat saya sangat berhati-hati dalam memanfaatkan uang belanja. Ada perasaan tidak sebebas sebelumnya dalam membelanjakan uang, padahal diberikan dengan nominal yang sama dengan gaji yang saya peroleh dari kantor sebelumnya..
- Waktu saya sepenuhnya dihabiskan di rumah dengan menjaga anak dan melakukan pekerjaan rumah tangga. Dengan pekerjaan sebelumnya yaitu sebagai pekerja lapangan yang sebagian besar waktu digunakan untuk survey ke berbagai tempat, tentunya akan membuat saya merasa bosan apabila hanya menghabiskan waktu di dalam rumah.
- Jujur saya wanita yang tidak suka pekerjaan membersihkan rumah seperti menyapu, mengepel lantai, dan sejenisnya. Dengan peran sebagai ibu rumah tangga mau tidak mau, suka ataupun tidak suka harus dilaksanakan.
- Cibiran keluarga dan orang sekitar yang menyayangkan keputusan saya berhenti bekerja. Terutama yang masih berpikiran wanita yang sekolah perguruan tinggi harus menjadi pegawai kantoran dan mengganggap percuma sekolah jauh-jauh kalau ujung-ujungnya melakukan pekerjaan rumah tangga.
Semua kegalauan itu terbukti di awal-awal saya melaksanakan peran menjadi Ibu Rumah Tangga murni.
Pernah merasakan sebagai ibu pekerja setelah bangun tidur menyelesaikan pekerjaan rumah tangga dan memasak, kemudian menyiapkan diri dan berangkat ke kantor, setelah sampai kantor bekerja hingga jam pulang kantor. Jemput anak ke rumah orang tua lalu melakukan beberapa pekerjaan rumah menidurkan anak dan pergi tidur. Dan begitu seterusnya dari hari Senin hingga Sabtu. Sehingga saya terbiasa sibuk.
Saat anak sedang sakit, pernah memimpikan menjadi ibu rumah tangga saja dan fokus mengurus anak. Namun setelah merealisasikannya ternyata tidak semudah yang dibayangkan..
Setelah menjadi ibu rumah tangga, semua pekerjaan rumah tangga selesai dikerjakan saat pukul 10.00 selanjutnya waktu bersama anak hingga dia tidur siang pukul 11.30 hingga pukul 15.00.
Selama anak tidur siang saya merasakan benar-benar hampa dan bingung harus mengerjakan apa dan merasa mati gaya karena sudah bosan menonton televisi yang isinya itu-itu saja. Tidur siang pun tidak bisa karena tidak terbiasa.
Mulai merasakan rindu dengan suasana bersama teman-teman kantor. Disini masa-masa sindrom seperti yang dialami pegawai yang sudah pensiun.
Setelah 2 bulan berselang, saya semakin terbiasa dan menikmati peran saya. Banyak cara yang saya lakukan untuk mengatasi kejenuhan dirumah diantaranya :
Untuk para ibu yang gundah akan mengambil keputusan resign dengan alasan keluarga, agar memikirkan dengan perencanaan matang sebelum mengambil keputusan besar ini. Namun percayalah, akan ada jalan yang dirancang sedemikianrupa dari Tuhan untuk segala keputusan yang diambil. Semangat juga untuk ibu-ibu pekerja yang luar biasa dan senantiasa berjuang demi keluarga
Setelah 2 bulan berselang, saya semakin terbiasa dan menikmati peran saya. Banyak cara yang saya lakukan untuk mengatasi kejenuhan dirumah diantaranya :
- Mencari beberapa kesibukan yang bisa menghasilkan tambahan uang belanja namun dapat dilakukan sambil menjaga anak.
- Menambah banyak teman dengan mengakrabkan diri dengan orang tua teman-teman si kecil di sekolahnya.
- Mencoba hal-hal yang tidak pernah saya lakukan sebelumnya seperti membuat kue, menata halaman, dll

Posting Komentar untuk "Dari Ibu Pekerja Menjadi Ibu Rumah Tangga Itu Tidak Mudah"