Momen melahirkan adalah pengalaman yang tidak terlupakan bagi seorang ibu.
Entah itu secara normal atau operasi sesar, di bidan atau rumah sakit semuanya memiliki kisah unik yang sangat berkesan.
Pengalaman saya melahirkan anak pertama akan saya bagikan melalui tulisan ini :
Berencana melahirkan di Singaraja, maka kami mengunjungi salah satu klinik terkenal dan bermaksud melakukan pemeriksaan bulanan disana.
Dengan berbekal buku pemeriksaan dari bidan dan dokter di sukawati, kami masuk ke ruangan dengan santai setelah cek berat badan ibu yang saat itu sudah mencapai 67 Kg (naik 22 Kg dari sebelum hamil).
Namun hal yang tidak terduga terjadi..
Hasil pemeriksaan USG memperlihatkan plasenta beserta talinya mengalami pengapuran dan bayi dikhawatirkan tidak mendapat asupan makanan apabila ini dibiarkan.
Jalan teraman yaitu segera melakukan persalinan. Saya bersikeras ingin melakukan persalinan normal sementara HPL seharusnya pertengahan Oktober.
Dokter menyalahka saya karena mungkin salah memberi informasi mengenai tanggal menstruasi terakhir karena pengapuran akan terjadi saat menginjak minggu menjelang persalinan.
Saya sangat yakin karena selalu tercatat di kalender dan siklus saya tergolong pendek yaitu 20-25 hari untuk selang waktu menstruasi.
Dokter yang memeriksa memberi waktu untuk observasi selama 1 minggu untuk melihat perkembangan apakah ada bukaan sehingga tepat melakukan tindakan dan disarankan untuk sering berjalan-jalan untuk memicu bukaan. Kami pun pulang dengan berbekal vitamin yang cukup untuk seminggu.
Sebelum pulang ke rumah saya menyempatkan diri mengunjungi kantor unit tempat saya bekerja yang berlokasi didaerah Singaraja untuk mengurus surat cuti melahirkan. Kendati saat itu banyak pekerjaan yang belum diselesaikan dan belum sempat serah terima ke alternate, namun perusahaan memaklumi.
Kembali kami mengunjungi praktek dokter untuk melihat perkembangan bayi. Setelah dilakukan pengecekan, diketahui posisi bayi sudah bagus namun belum masuk ke panggul sehingga dokter kembali mengulur waktu persalinan seminggu lagi. Kami kembali pulang ke rumah dengan hati berdebar karena waktu persalinan yang semakin dekat.
Rasa khawatir mulai menyelimuti hati kami. Dengan pengapuran yang cukup parah kalau harus menunggu lagi kami takut bayi kami tidak memperoleh asupan makanan dengan maksimal. Kami kembali mengunjungi dokter untuk meminta kepastian dan jalan keluar. Setelah dilakukan pemeriksaan dokter memberikan resep obat induksi sebanyak 3 butir yang diminum mulai pukul 5 esok harinya dan diminum selanjutnya selang 5 jam. Setelah obat habis wajib langsung ke klinik untuk dilakukan proses persalinan.
Dengan perasaan sedikit lega kami meninggalkan klinik dan menyiapkan perlengkapan untuk persalinan yang sudah dipastikan.
Bangun pukul 05.00 untuk minum obat pertama. Setelah mengkonsumsi obat tersebut, tiba-tiba perut terasa mengeras namun tidak terasa sakit. Lanjut obat kedua pukul 10.00 reaksi yang ditimbulkan hanya perut yang terasa tegang dan mengeras. Berlanjut pukul 15.00 setelah konsumsi obat terakhir kami melakukan persiapan ke klinik dengan menggunakan sepeda motor.
sesampai di klinik kami dibawa ke ruang observasi sembari menunggu ruang tindakan yang sedang dipakai untuk persalinan ibu yang lain.
Cek dalam yaitu memasukkan jari ke saluran jalan lahir ternyata baru bukaan 1 sempit.
Oya sekedar informasi cek dalam itu ternyata tidak sesakit yang dibayangkan. Asalkan kita relax dan tidak tegang mau berapa kali pun cek dalam tidak masalah. hehe..
Selanjutnya bidan menyarankan jalan-jalan di sekitar klinik. Selitar pulul 18.00 selang 1 jam jalan-jalan terasa ada yang merembes dari jalan lahir yang tidak dapat tertahankan. Bidan segera menghampiri dan meyakinkan bahwa saya sudah pecah ketuban.
Langkah yang diambil yaitu tidak diperbolehkan melakukan kegiatan berdiri maupun duduk dan hanya diperbolehkan rebahan menghadap ke kiri. Bahkan untuk buang air kecil dilakukan dengan menggunakan pispot dibantu oleh suami saya.
Pukul 22.00 diambil tindakan pemasangan infus yang diberi obat induksi untuk mempercepat proses bukaan. Saat itu baru pembukaan 2.
Setelah dipasang infus, rasa mulas mulai terasa seperti nyeri saat haid namun masih bisa tertahankan. Disarankan mengatur nafas agar meringankan rasa nyeri.
Pukul 24.00 cek bukaan baru bukaan 4 dan bidan yang mengecek mengabarkan bahwa kemungkinan bayi akan lahir esok pagi sekitar pukul 07.00.
Rasa sakit semakin kuat dan menjalar dari perut depan ke punggung dan lanjut ke bagian bawah. semakin berjalan waktu semakin terasa sakit dan tidak terdefinisikan letak dan rasa sakitnya.
suami dan ibu mertua menguatkan dengan memberi semangat dan pijatan lembut di daerah punggung. Menit demi menit terasa sangat lama karena merasakan kontraksi yang semakin hebat. Sempat terpikir untuk menyerah dan melakukan tindakan operasi cecar, namun kembali tersadar bahwa saya yang memilih untuk melahirkan secara normal jadi saya pasti bisa. Kembali fokus ke pernafasan dan menyemangati adik di dalam perut yang juga berjuang menuju jalan lahir dan tidak sabar ingin bertemu ibunya.
Waktu menunjukkan pukul 02.00 tiba-tiba nyeri yang hebat berganti dengan hasrat ingin buang air besar yang tidak tertahankan. Karena tidak diperbolehkan beranjak dari tempat tidur, saya meminta suami untuk memanggil perawat karena rasa untuk mengejan sangat kuat.
Perawat yang sedang beristirahat di kamar sebelah segera menghampiri saya dan segera melakukan cek dalam kembali. Ternyata sudah bukaan penuh dan siap dilakukan persalinan. Seluruh pakaian saya ditanggalkan dan saya dibimbing untuk latihan mengejan.
Setelah 20 menit mengejan hanya terlihat rambut bayi yang diakibatkan oleh cara mengejan yang salah (maklum, pengalaman pertama melahirkan). Perawat dan bidan yang menangani saya segera menghubungi dokter untuk dilakukan penanganan lebih lanjut karena dicurigai bayi terlilit tali plasenta.
5 menit kemudian dokter datang dan dengan santai memberi tahu saya bahwa akan dilakukan proses pengguntingan untuk mempermudah bayi untuk keluar. Setelah digunting kanan dan kiri saya diminta mengejan saat datangnya kontraksi. Dengan sepenuh tenaga saya mengejan saat datangnya gelombang cinta tersebut, daaaannnn....
oek.. oek.. oek..
Suara tangisan kencang itu yang membuat saya resmi menjadi ibu dan seketika menghilangkan segala sakit selama proses penantiannya.
Ternyata memang benar bayi terlilit tali placenta di leher sehingga sulit keluar saat mengejan. Dan diperlihatkan pula placenta yang sudah mengalami pengapuran.
Setelah bayi dibersihkan, ditimbang dan diukur, saya juga sudah selesai dijahit selanjutnya dilakukan IMD.
Rasa syukur yang tak terhingga bisa menghadirkan putra pertama kami ke dunia yang kami beri nama I Gede Satya Pradnyana yang lahir di tanggal 13 September 2012 pukul 02.30
Perjuangan belum selesai..
Kelanjutannya akan saya ceritakan di artikel selanjutnya :)
Entah itu secara normal atau operasi sesar, di bidan atau rumah sakit semuanya memiliki kisah unik yang sangat berkesan.
Pengalaman saya melahirkan anak pertama akan saya bagikan melalui tulisan ini :
H-12 (31 Agustus 2012)
Berencana melahirkan di Singaraja, maka kami mengunjungi salah satu klinik terkenal dan bermaksud melakukan pemeriksaan bulanan disana.
Dengan berbekal buku pemeriksaan dari bidan dan dokter di sukawati, kami masuk ke ruangan dengan santai setelah cek berat badan ibu yang saat itu sudah mencapai 67 Kg (naik 22 Kg dari sebelum hamil).
Namun hal yang tidak terduga terjadi..
Hasil pemeriksaan USG memperlihatkan plasenta beserta talinya mengalami pengapuran dan bayi dikhawatirkan tidak mendapat asupan makanan apabila ini dibiarkan.
Jalan teraman yaitu segera melakukan persalinan. Saya bersikeras ingin melakukan persalinan normal sementara HPL seharusnya pertengahan Oktober.
Dokter menyalahka saya karena mungkin salah memberi informasi mengenai tanggal menstruasi terakhir karena pengapuran akan terjadi saat menginjak minggu menjelang persalinan.
Saya sangat yakin karena selalu tercatat di kalender dan siklus saya tergolong pendek yaitu 20-25 hari untuk selang waktu menstruasi.
Dokter yang memeriksa memberi waktu untuk observasi selama 1 minggu untuk melihat perkembangan apakah ada bukaan sehingga tepat melakukan tindakan dan disarankan untuk sering berjalan-jalan untuk memicu bukaan. Kami pun pulang dengan berbekal vitamin yang cukup untuk seminggu.
Sebelum pulang ke rumah saya menyempatkan diri mengunjungi kantor unit tempat saya bekerja yang berlokasi didaerah Singaraja untuk mengurus surat cuti melahirkan. Kendati saat itu banyak pekerjaan yang belum diselesaikan dan belum sempat serah terima ke alternate, namun perusahaan memaklumi.
H-6 (7 September 2012)
Kembali kami mengunjungi praktek dokter untuk melihat perkembangan bayi. Setelah dilakukan pengecekan, diketahui posisi bayi sudah bagus namun belum masuk ke panggul sehingga dokter kembali mengulur waktu persalinan seminggu lagi. Kami kembali pulang ke rumah dengan hati berdebar karena waktu persalinan yang semakin dekat.
H-1 (11 September 2012)
Rasa khawatir mulai menyelimuti hati kami. Dengan pengapuran yang cukup parah kalau harus menunggu lagi kami takut bayi kami tidak memperoleh asupan makanan dengan maksimal. Kami kembali mengunjungi dokter untuk meminta kepastian dan jalan keluar. Setelah dilakukan pemeriksaan dokter memberikan resep obat induksi sebanyak 3 butir yang diminum mulai pukul 5 esok harinya dan diminum selanjutnya selang 5 jam. Setelah obat habis wajib langsung ke klinik untuk dilakukan proses persalinan.
Dengan perasaan sedikit lega kami meninggalkan klinik dan menyiapkan perlengkapan untuk persalinan yang sudah dipastikan.
Hari H Proses Persalinan (12 September 2012)
Bangun pukul 05.00 untuk minum obat pertama. Setelah mengkonsumsi obat tersebut, tiba-tiba perut terasa mengeras namun tidak terasa sakit. Lanjut obat kedua pukul 10.00 reaksi yang ditimbulkan hanya perut yang terasa tegang dan mengeras. Berlanjut pukul 15.00 setelah konsumsi obat terakhir kami melakukan persiapan ke klinik dengan menggunakan sepeda motor.
sesampai di klinik kami dibawa ke ruang observasi sembari menunggu ruang tindakan yang sedang dipakai untuk persalinan ibu yang lain.
Cek dalam yaitu memasukkan jari ke saluran jalan lahir ternyata baru bukaan 1 sempit.
Oya sekedar informasi cek dalam itu ternyata tidak sesakit yang dibayangkan. Asalkan kita relax dan tidak tegang mau berapa kali pun cek dalam tidak masalah. hehe..
Selanjutnya bidan menyarankan jalan-jalan di sekitar klinik. Selitar pulul 18.00 selang 1 jam jalan-jalan terasa ada yang merembes dari jalan lahir yang tidak dapat tertahankan. Bidan segera menghampiri dan meyakinkan bahwa saya sudah pecah ketuban.
Langkah yang diambil yaitu tidak diperbolehkan melakukan kegiatan berdiri maupun duduk dan hanya diperbolehkan rebahan menghadap ke kiri. Bahkan untuk buang air kecil dilakukan dengan menggunakan pispot dibantu oleh suami saya.
Pukul 22.00 diambil tindakan pemasangan infus yang diberi obat induksi untuk mempercepat proses bukaan. Saat itu baru pembukaan 2.
Setelah dipasang infus, rasa mulas mulai terasa seperti nyeri saat haid namun masih bisa tertahankan. Disarankan mengatur nafas agar meringankan rasa nyeri.
Pukul 24.00 cek bukaan baru bukaan 4 dan bidan yang mengecek mengabarkan bahwa kemungkinan bayi akan lahir esok pagi sekitar pukul 07.00.
Rasa sakit semakin kuat dan menjalar dari perut depan ke punggung dan lanjut ke bagian bawah. semakin berjalan waktu semakin terasa sakit dan tidak terdefinisikan letak dan rasa sakitnya.
suami dan ibu mertua menguatkan dengan memberi semangat dan pijatan lembut di daerah punggung. Menit demi menit terasa sangat lama karena merasakan kontraksi yang semakin hebat. Sempat terpikir untuk menyerah dan melakukan tindakan operasi cecar, namun kembali tersadar bahwa saya yang memilih untuk melahirkan secara normal jadi saya pasti bisa. Kembali fokus ke pernafasan dan menyemangati adik di dalam perut yang juga berjuang menuju jalan lahir dan tidak sabar ingin bertemu ibunya.
Waktu menunjukkan pukul 02.00 tiba-tiba nyeri yang hebat berganti dengan hasrat ingin buang air besar yang tidak tertahankan. Karena tidak diperbolehkan beranjak dari tempat tidur, saya meminta suami untuk memanggil perawat karena rasa untuk mengejan sangat kuat.
Perawat yang sedang beristirahat di kamar sebelah segera menghampiri saya dan segera melakukan cek dalam kembali. Ternyata sudah bukaan penuh dan siap dilakukan persalinan. Seluruh pakaian saya ditanggalkan dan saya dibimbing untuk latihan mengejan.
Setelah 20 menit mengejan hanya terlihat rambut bayi yang diakibatkan oleh cara mengejan yang salah (maklum, pengalaman pertama melahirkan). Perawat dan bidan yang menangani saya segera menghubungi dokter untuk dilakukan penanganan lebih lanjut karena dicurigai bayi terlilit tali plasenta.
5 menit kemudian dokter datang dan dengan santai memberi tahu saya bahwa akan dilakukan proses pengguntingan untuk mempermudah bayi untuk keluar. Setelah digunting kanan dan kiri saya diminta mengejan saat datangnya kontraksi. Dengan sepenuh tenaga saya mengejan saat datangnya gelombang cinta tersebut, daaaannnn....
oek.. oek.. oek..
Suara tangisan kencang itu yang membuat saya resmi menjadi ibu dan seketika menghilangkan segala sakit selama proses penantiannya.
Ternyata memang benar bayi terlilit tali placenta di leher sehingga sulit keluar saat mengejan. Dan diperlihatkan pula placenta yang sudah mengalami pengapuran.
Setelah bayi dibersihkan, ditimbang dan diukur, saya juga sudah selesai dijahit selanjutnya dilakukan IMD.
Rasa syukur yang tak terhingga bisa menghadirkan putra pertama kami ke dunia yang kami beri nama I Gede Satya Pradnyana yang lahir di tanggal 13 September 2012 pukul 02.30
Perjuangan belum selesai..
Kelanjutannya akan saya ceritakan di artikel selanjutnya :)
Posting Komentar untuk "Proses Melahirkan Kakak Satya"